USAI BERCERAI – 8

USAI BERCERAI – 8

OLEH : DEWI FATIMAH

Mantan suami Ratu meminta waktu. Sebentar katanya. Aku mengiyakan dan mengajaknya duduk di lobby utama. Tempatnya luas dan yang penting tidak banyak pegawai yang singgah di sini. Jadi aman dari mereka yang biasanya suka curi-curi dengar.
Tunggu. Bagaimana Sony bisa menemukanku? Kesasar atau sengaja?
“Perusahaanku jadi mitra kantor ini. Tadi mengantarkan beberapa berkas untuk diperiksa dan ditindaklanjuti. Dan … enggak nyangka malah ketemu kamu.” Ia menjelaskan kehadirannya yang cukup ajaib, tanpa diminta.
“Oh,” sahutku datar.
“Sudah berapa lama jadi abdi negara?”
“Baru tiga tahunan.” Dalam hati, aku ingin bicara dengan nada ketus. Ngapain nanya-nanya? Tapi sepertinya tidak elok. Yah bagaimanapun, perusahaannya adalah mitra.
Sony manggut-manggut. Ia lalu mengedarkan pandangan ke kiri dan ke kanan. Mungkin membandingkan suasana kantor ini dengan kantornya. Entahlah. Tidak penting juga.
“Jadi … Han, kamu tahu di mana Ratu sekarang?” tanya Sony tanpa lagi basa-basi.
Kedua alisku mengkerut. “Kenapa emangnya?”
Sony menghela napas. “Sudah hampir tiga minggu Bastian belum dipulangkan. Nomor Ratu enggak bisa dihubungi.”
Dari caranya bicara dan menatap petak lantai marmer, sepertinya dia menyimpan masalah besar.
“Bastian sama ibunya. Kupikir, enggak ada yang perlu dikhawatirkan.”
Sony mengangguk-angguk. “Kamu benar. Tapi masalahnya … yang jadi ibunya adalah Ratu.”
Alisku berjingkat sebelah. “Maksud kamu?”
Sony menyugar rambut lurusnya yang agak panjang. Penampilan lelaki ini mengingatkanku pada Jerry Yan. Aktor Taiwan yang tenar di awal tahun 2000-an. Bedanya, ini versi kulit sawo matang dengan tubuh agak lebar.
“Sudah berapa tahun kenal sama Ratu?”
Aku berdecak. “Langsung ke intinya sajalah.” Untuk apa menanyakan hal yang tidak substansial?
Sony tertawa pendek dan lirih. Terdengar getir. “Han, Ratu yang kamu kenal sekarang, bukan Ratu yang dulu.” Ia tersenyum sekilas setelah menatap wajah heranku. “Sebelum Bastian lahir, dia jadi istri yang penurut, menyenangkan. Walaupun aku tahu dia menerimaku dengan hati terpaksa, tapi dia bisa bersikap manis. Tapi semuanya berubah begitu anak kami lahir. Dia sering marah-marah enggak jelas. Bahkan bayi yang enggak tahu apa-apa juga dimarahin. Setelah konsultasi ke sana-sini, ternyata dia stres karena merasa enggak bebas ke mana-mana lagi. Merasa kehadiran Bastian serba membatasi.”
“Sori,” aku menyela, “memangnya aktivitas Ratu sebelum melahirkan … apa?”
“Ke butik. Aku buatin dia butik. Mungkin karena itu, dia jadi penggila fashion. Sering hunting baju-baju keluaran baru untuk ngisi butik. Meskipun hamil besar, dia masih aktif di luar, berburu baju.”
Aku berusaha mencerna penjelasan Sony, lalu membuat kesimpulan sendiri. Kalau memang kelahiran Bastian dianggap membatasi, kenapa waktu itu dia ngotot ingin bawa Bastian. Sampai wajahnya memar karena Sony? Tidak masuk akal.
“Bentar, Son. Aku enggak paham sama cerita kamu. Setahuku Ratu benar-benar menginginkan Bastian ikut sama dia. Buktinya malam itu …, maksudku sebelum kalian benar-benar cerai, katanya Ratu sempet pulang untuk ngambil Bastian. Terus rebutan sama kamu sampai … kamu mukul … dia, kan?”
Sony lagi-lagi tersenyum getir. Tangannya mengurut kening seperti orang pusing. “Playing victim.”
Aku terdiam. Semakin tidak paham dan semua jadi semakin janggal. Siapa yang harus kupercaya sekarang? Laki-laki ini atau Ratu?
“Intinya gini lah, Han. Kalau kamu tahu di mana Ratu tinggal atau punya nomor Ratu yang aktif, tolong kasih tahu aku. Aku udah nahan-nahan untuk enggak lapor polisi.”
“What? Lapor polisi? Gila bener!”
“Kamu enggak tahu apa-apa soal kami. Kamu juga enggak ngerti seberapa khawatirnya aku sama keadaan Bastian!” Mata Sony berkilat marah. Suaranya sampai terdengar agak menggema di lobby. Mengundang tatapan curiga beberapa orang.
“Oke. Aku akan bantu.” Aku lekas bicara untuk meredam emosinya. “Terakhir, dia tinggal di apartemen di Jakarta Utara. Enggak jauh dari kawasan Ancol. Tapi enggak tahu di unit yang mana. Pernah nganter dia tapi cuma sampai bawah. Untuk nomor yang aktif … sori, ponselku di lantai sembilan. Itupun kalau nomor itu masih aktif.”
“Emangnya, terakhir kontak sama Ratu kapan?”
Aku mengingat-ingat. “Dua minggu lalu, kayaknya. Bentar, kamu tahu dari mana Ratu nemuin aku?”
Sony terbahak pendek. “Enggak terlalu sulit untuk menebak isi otak perempuan itu. Aku tahu, sebelum kami menikah, Ratu sangat mengandalkan kamu. Seolah-olah enggak ada orang lain selain pacarnya.” Ia berdecak sinis.
Kamper basi! Sengaja menyindir rupanya.
“Cemburu?” Aku menyindir balik.
“Disimpulkan begitu juga boleh. Oh ya, ngomong-ngomong … istri kamu enggak tahu kalau suaminya diam-diam menjalin hubungan sama mantan?”
Oh, Shiitake gunduuul! Orang ini mau ngajak ribut, kayaknya.
Melihat wajahku yang tegang, Sony tertawa lirih. Tawa yang efeknya seperti tikaman.
“Tenang, Pak Reyhan, aku enggak bakal lapor sama istrimu. Yah, itung-itung sebagai timbal balik udah mau bantu.” Ia bangkit, lalu menepuk pelan pundakku. “Thanks, ya, Pak. Saya permisi.” Ia mengulurkan tangan dengan gaya sok resmi.
Aku menyambut jengah telapak tangan mengambang itu.
“Oh ya, ini kartu namaku. Tolong hubungi nomor itu kalau ada kabar soal Ratu.”
Kertas kecil berwarna biru itu kuterima dengan malas. Begitu Sony pergi, aku bangkit sembari menghentakkan kaki. Kesal!
*
Sabtu pagi.
Aku ingin pulang ke rumah orang tua–di pinggiran Kota Jakarta. Sejak konflik pasca perceraian itu, kami belum lagi bertemu. Sesekali aku atau Mama berkirim pesan dan telepon. Sekadar menanyakan kabar. Tidak ada lagi singgungan soal Maysa. Seolah menyebut nama itu akan membangkitkan kenangan indah. Tapi menyedihkan.
Mobil melaju santai, menerobos kepadatan lalu lintas Jakarta. Baru kira-kira seperempat perjalanan, mataku menangkap jajaran bunga anggrek yang dijual di atas trotoar. Kontan terlintas sebuah ide agak gila.
Mobil menepi. Lima belas menit melihat, bertanya, dan akhirnya menjatuhkan pilihan. Jenis anggrek hibrida. Warna pink muda dengan semburat titik-titik di kelopaknya. Ada tiga tanaman dalam satu pot. Indah. Senyumku mengembang seiring hati yang membuncah.
Mungkin, si penyuka anggrek sedang menjalin hubungan istimewa dengan orang lain. Ustaz Hadi. Tapi bunga eksotis ini berhasil membangkitkan rindu yang sudah kubunuh beberapa waktu lalu.
Aku ingin menemui Maysa. Aku ingin tahu kabarnya. Aku ingin bicara padanya.
Kembali ke mobil, aku memutar arah. Sembari menuju ke Orchid Cake n’ Bakery, aku melihat-lihat sisi kiri jalan. Mencari penjual kacamata, topi, dan jaket. Butuh perlengkapan untuk menyamar.
Oh ya, pernah mendengar kisah Mughist dan Bariroh? Aku tahu kisah ini dari kajian seorang ustaz melalui YouTube.
Mereka berdua awalnya sama-sama budak. Statusnya suami-istri. Bariroh merdeka sementara Mughist belum. Dalam Islam, kondisi seperti Bariroh diberi dua pilihan. Tetap bertahan dengan suami yang statusnya masih budak, atau pisah. Dan Bariroh memilih berpisah.
Saking cintanya, Mughist menjadi bucin. Sering mengikuti Bariroh, bahkan tak jarang dengan air mata bercucuran. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam sampai heran sekaligus kasihan, dan menyarankan Bariroh untuk kembali pada Mughist. Hanya saja, Bariroh menolak.
Dalam-dalam, aku menghela napas.
Mungkin aku seperti Mughist dan Maysa adalah Bariroh. Mughist yang jadi bucin mantan istrinya. Bersyukur, level yang kualami tidak separah itu.
Hampir satu jam, semua perlengkapan siap. Aku mematut diri di kaca spion dalam. Berbalut jaket tebal yang mirip buntalan, kaca mata hitam, dan topi ini, aku yakin Maysa tidak akan mengenaliku. Aku pun melajukan mobil, menuju komplek ruko di mana toko kue Maysa berada.
Mobil sengaja kuparkir agak jauh agar tidak mengundang curiga. Sebelum keluar, aku mengetes suara. Dengan sedikit ngebas, aku percaya diri penyamaran ini sangat sempurna. Aku tersenyum untuk diriku sendiri sembari meredam debar-debar di dada. Kulirik anggrek yang akan kuberikan pada Maysa. Sudah ada selembar kertas bertuliskan tiga baris kalimat di sana.
“Mbak Maysa ada?” tanyaku kepada salah satu karyawan toko yang masih sibuk menata kue.
Wanita berkerudung itu menatapku dari ujung kepala sampai kaki, lalu pandangannya fokus pada apa yang kubawa.
“Ada perlu apa ya, Pak?” tanyanya setelah puas menyelidiki.
“Saya mau mengantar ini,” jawabku merujuk anggrek.
Wanita itu lantas berbalik badan, berjalan ke belakang. Kakiku berjengit-jengit lantaran grogi. Setelah dua atau tiga menit menunggu yang terasa seperti selamanya, akhirnya sosok itu keluar juga.
Maysa ….
Dan, dunia seakan terjeda. Menyisakan seorang wanita muda dengan apron membalut seluruh dada. Berjalan pelan akibat efek slow motion yang tercipta dari imajinasiku sendiri. Wajahnya tak lagi sama. Ada kacamata bertengger di atas hidung bangirnya. Menambah kesan cantik dan berwibawa. Benar kata orang, dia … memang mirip orang Korea.
“Ada yang bisa saya bantu, Pak?”
Aku mendengar apa yang dia ucapkan, hanya saja otakku sedang tak bisa mencerna informasi dengan benar. Mungkin, aku terlihat seperti orang tolol sekarang.
Maysa memandangku heran sekaligus menunggu. Tahu apa yang kulakukan? Menikmati setiap gerakan matanya, kerutan alisnya, dan gerakan kepalanya.
“Pak?”
“May ….”
“Iya, saya?”
Roti sobek jamuran! Kenapa lidahku malah menyebut namanya? BO-DOH.
Aku berdehem. Menetralkan nerveous yang berlebihan sekaligus menyamarkan suara asli. Menggantinya dengan suara ngebas yang tadi teruji.
“Oh … em … maksud saya … em … Mbak … Mbak … May … Maysa?” Lidah juga kenapa jadi keselip-selip begini? Argh!
“Iya, saya sendiri. Ada apa ya, Pak?”
“Anggrek.” Aku menjawab dengan kondisi dada naik-turun.
“Kenapa anggreknya, Pak?” Maysa menatapku dengan sorot yang menunjukkan kesabaran. Sorot mata yang hampir membuatku beku.
“Maksud saya … ini … ada anggrek untuk Mbak Maysa. Titipan dari seseorang.” Dengan tangan yang sedikit gemetar, kuulurkan bunga padanya.
Maysa menatap ragu selama beberapa detik. Tangannya lalu terulur perlahan-lahan, menerima dengan hati-hati. Dan saat itulah mataku menangkap sesuatu.
Cincin yang kuberikan sebagai mahar pernikahan, masih melilit di jari manis kirinya. Menimbulkan degub berisik dalam dada. Apakah … benda itu masih sangat berarti bagi Maysa?
“Anggrek lagi,” gumamnya. “Dari siapa, ya, Pak?”
Lagi-lagi, sambungan telinga ke otak mengalami korslet. Mendengar tapi tak tercerna dengan benar.
“Kalau boleh tahu dari siapa, ya, Pak?” Maysa mengulangi dengan volum suara lebih besar.
Aku tergagap. “Em … dari seseorang yang … tidak mau disebut namanya.”
Alisnya mengkerut. Seperti berpikir dengan keras sekali. “Jangan-jangan orang yang sama.” Ia pun membetulkan letak kacamata, membuatku ingin menanyakan banyak hal tentang benda itu.
Sejak kapan dipakai?
Minus atau silinder?
Beli di mana?
Harganya berapa?
Frame-nya bagus. Aku suka.
Kamu makin … cantik, May ….
Maysa memandangiku lagi. “Mm … Bapak tahu ciri-ciri orang yang ngirim anggrek ini, kan?”
“Oh … em … iya, Mbak. Tapi … sesuai perintah, harus dirahasiakan.”
Maysa mendesah kecewa, lalu membuka lipatan kertas. Matanya terpaku agak lama. Mungkin membaca tulisannya berulang-ulang.
“Masa Bang Reyhan? Tapi mana mungkin?” gumamnya lagi.
Mampus!
Aku buru-buru pamit. Tanpa menunggu Maysa menyahut, aku berbalik badan dan keluar.
“Iya, ini Abang, Maysa!” Aku bicara setengah memekik di mobil. “Kenapa cincin itu masih dipakai?” Aku melepas kacamata, topi, dan jaket dengan kasar. Ketiga benda itu kulempar ke jok belakang. “Apa masih berarti buat kamu? Apa kita memang memiliki rasa yang sama? Terus, Ustaz Hadi?”
Aku membanting punggung di kursi kemudi. Mengatur irama napas dan meredam emosi.
Emosi yang tidak jelas sebabnya. Karena terlalu banyak rasa yang teraduk-aduk dalam dada.
*
“Kamu kok kurusan, sih, Rey?” tanya Mbak Mita saat menyajikan hidangan makan siang.
“Wajar, enggak ada yang urus,” sahut Mama yang terdengar seperti menyindir.
“Udah. Segera nikah lagi aja.” Mbak Mita menimpali.
“Nikah itu enggak gampang. Niat, harus benar-benar ditata. Jangan sampai kejadian–”
Aku berdehem memotong pembicaraan Papa, lalu berkata tanpa sedikit pun mengangkat muka. “Mau makan apa mau nyerang Reyhan, sih?”
“Loh, siapa yang nyerang?” Papa tertawa pendek. “Orang Papa cuma mau ngasih nasihat, kok.”
Nasihat di saat yang tidak tepat.
Aku menenggak segelas air putih hingga tandas. Setelahnya makan dalam diam. Aku rindu masakan Mama dan Mbak Mita. Hanya saja siang ini kehilangan selera. Wajah Maysa seakan di mana-mana. Hadir di ruang tamu, di ruang keluarga, di meja makan, di piring kosong, juga … di kamar.
Ya, di kamar ini. Kami pernah tidur berdua. Saat awal menikah dulu. Maysa mengomentari hampir seluruh isi ruangan. Berisik sekali. Aku lelah memberi tanggapan. Andaikan waktu bisa diputar ulang … mungkin aku akan memilih untuk menikmati setiap ocehannya. Menanggapi setiap pertanyaannya.
“Rey ….” Kehadiran Mama menarikku kembali dari kenangan. Wanita pertamaku itu duduk di sisiku di atas ranjang.
“Ma.”
“Hm?”
“Maysa …,” aku menatap wajah teduh itu sekilas sebelum melempar pandangan ke dinding. Membayangkan jemari Maysa yang masih dihiasi cincin itu.
“Maysa kenapa?”
“Dia masih pake cincin dari Reyhan.”
“Terus?”
“Menurut Mama, kenapa kira-kira?”
Mama diam sesaat, berpikir. “Ya terserah dia. Kan, itu mahar. Mau dipakai, mau dilepas, mau dijual, itu haknya dia.”
Aku menoleh Mama, menunjukkan muka belum puas dengan jawabannya.
“Atau … bisa jadi …. Ah, entar kamunya kegeeran lagi.”
Aku menggeram sebal, sementara Mama malah tertawa.
-x-

Share this:

Please follow and like us:

Facebook Comments

Author: ahlijualproperti087887232777

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *