USAI BERCERAI – 4

USAI BERCERAI – 4

OLEH : DEWI FATIMAH

“Jadi istri saya hamil?”

Eh, sebentar. Istri?

Hm, iya. Sudah ada niat kuat untuk rujuk. Rupanya terlalu berat melepaskan seorang wanita sebaik Maysa. Apalagi setelah melihatnya kesakitan dan tak berdaya, sekujur tubuh ini ingin menanggung semua yang ia derita.

Dokter obsgyn di hadapanku mengangguk yakin. “Sudah 13 minggu usia janinnya.”

Aku menghela napas kemudian mengempaskan diri ke punggung kursi. Otot-otot mendadak lemas bersamaan dengan jantung yang perlahan-lahan teremas.

Calon bayi kami … kata dokter sudah tidak hidup lagi. Ditandai dengan detak jantung yang terhenti.

Penyebabnya diduga terkena infeksi rubella. Karena pekan lalu Maysa mengalami demam disertai muncul ruam. Kekhawatiran Mama wakt itu … ketika nomor Maysa tidak aktif, rupanya terbukti. Yah ibuku memang sepeka itu dengan menantu yang satu ini.

Karena sudah tidak bisa diselamatkan, maka tidak ada opsi lain. Malam ini juga, janin itu harus dikeluarkan dari rahim Maysa melalui proses kuretase.

Lalu di sinilah aku sekarang. Duduk seorang diri di depan ruang tindakan. Menunggu proses di dalam sana sembari merutuki diri, menangisi keadaan. Menyadari bahwa semua ini buntut dari kesalahanku.

Salahku tak pernah berjuang untuk mencintai seseorang yang jelas telah halal. Seseorang yang bahkan tidak layak untuk disakiti.

Salahku membiarkan diri tenggelam dalam kubangan masa lalu padahal itu menyesakkan. Dan ini seperti tamparan keras bagi seorang yang angkuh seperti Reyhan!

Allah … bagaimana harus meminta maaf pada Maysa?

Derit pintu mengangetkan, memaksaku memasang wajah tegar khas laki-laki. Dokter keluar memberi kabar. Selang beberapa menit, dua orang perawat menggeledek Maysa yang masih memejam menuju ruang pemulihan.

Sengaja kupilih ruang VIP agar Maysa merasa nyaman. Maksudku kami. Ya, kami. Setelah ini, aku hanya ingin berdua saja dengannya. Sembari menunggu matanya terbuka, ingin kuungkap apa saja yang tersimpan untuknya.
Dari hati yang kini merasakan sesak dan perih seorang diri.

“Nanti kalau Bu Maysa sudah sadar, segera panggil kami ya, Pak? Mngkin 15 sampai 30 menit lagi,” ucap seorang perawat sebelum meninggalkan ruangan.

“Oke. Makasih, Sus,” kataku ramah.

Perawat itu mengangguk dan berlalu.

“May …,” ucapku saat tangan lembut itu kugenggam. “Maafin Abang ….” Aku mencium punggung tangannya dengan mata memejam. Menikmati sesuatu yang belum pernah kulakukan pada wanita di hadapanku.

Tiba-tiba memori tentang malam pertama terputar di otak. Saat di mana kusaksikan seorang Maysa menungguku di kamar dengan pakaian kurang bahan. Ia tersenyum malu sambil mendekap bantal, menutupi bagian dada yang agak terbuka.

Waktu itu, aku tak menghargai usahanya sebagai istri. Selama belum ada cinta, aku berjanji tidak akan melakukan hubungan itu. Terdengar naif, tapi kupikir itulah sikap sejati seorang laki-laki. Daripada melakukannya tapi tidak dari hati?

“Maysa, Abang tahu kita sudah sah sebagai suami-istri. Abang tahu kita sudah boleh melakukan apapun. Tapi selama belum ada cinta di hati kita masing-masing … lebih baik tidak kita lakukan dulu.”

Maysa menanggapi kalimatku dengan sorot mata yang tidak bisa kuartikan dan memang waktu itu, aku tak mau peduli. Karena yang kupikirkan hanya bagaimana agar egoku menang.

Setelah itu, kami menjalani biduk rumah tangga dan menurutku semua berjalan normal. Dia melaksanakan tugasnya sebagai istri dan aku melakukan tugasku sebagai suami. Kecuali urusan ranjang. Sampai menjelang bulan ketiga pernikahan, Maysa kembali membicarakan ini.

“Bang, em … ada yang ingin aku sampaikan.” Dia bicara dengan ragu-ragu.

“Apa?”

“Bang, em … dalam agama … em ….”

“Apa, Maysa?” Tanyaku tak sabar. Geregetan juga mendapatinya am-em-am-em seperti itu.

Dia memandangku takut-takut. Setelah berselang beberapa menit, dia kembali bicara. “Bang … dalam Islam, kalau sudah empat bulan sejak menikah seorang suami tidak memberi nafkah batin, maka … akan diberi pilihan.”

Aku memandangnya serius. “Pilihan gimana?”

Maysa menunduk, lalu melirikku sejenak. “Berpisah atau melanjutkan pernikahan tapi dengan konsekuensi ….”

Tanpa melanjutkan kata berikutnya, aku tahu maksudnya apa.

Aku mendengkus lirih. Menyadari bahwa Maysa berhak menuntut haknya. Meski belum ada cinta, akhirnya kami melakukannya. Daripada usia pernikahan kami empat bulan saja?

Gerakan tangan Maysa menarikku kembali dalam ruangan ini. Kedua matanya perlahan mengerjap. Senyumku mengembang seiring usahanya membuka mata. Ketika dia masih mencerna keadaan, aku bangkit berdiri memanggil perawat.

Beberapa menit kemudian, dokter yang menangani Maysa datang bersama seorang perawat. Setelah melakukan pemeriksaan, wanita berhijab itu mengabarkan bahwa kondisi Maysa membaik. Tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Kemungkinan besar, besok siang sudah diperbolehkan pulang.

“Sejak kapan Maysa tahu kalau lagi hamil?” tanyaku setelah beberapa menit dokter dan perawat berlalu.

“Baru pekan lalu.” Maysa menjawab dengan suara lirih.

“Kenapa enggak ngasih tahu Abang?” tanyaku lagi penuh penyesalan.

“Maaf ….”

“Usia kandungannya udah 13 minggu, May. Apa sebelumnya Maysa enggak mengalami tanda-tanda seperti orang lagi hamil?”

Teringat dengan kehamilan Mbak Mita yang sudah diketahui sejak usia janinnya baru enam minggu.

Maysa melihatku sekilas lalu beralih memandang plavon bercat putih. Mungkin memproyeksikan ingatannya di sana atau baginya langit-langit ruangan lebih menarik dari wajahku?

“Sebelumnya udah curiga waktu telat haid. Tapi … saya khawatir Abang enggak suka atau malah marah. Jadi … saya sengaja enggak ngecek pake tespek atau ke dokter.”

Maysa memang bicara pelan tapi terdengar seperti sambaran petir yang menggelegar. Khawatir aku tak suka, katanya? Ya Allah, Maysa ….

Aku menghela napas, mengurai sesak yang semakin menjadi-jadi.

Menit kemudian hening. Aku tertunduk lemas sementara Maysa sibuk mengusap sudut matanya.

“Maafin Abang, May ….” Akhirnya kalimat itu yang keluar setelah hampir setengah jam kami saling terdiam.

*

Pagi ini Maysa tampak lebih segar. Kemarin tubuhnya lemas dan gemetar karena memang tidak makan hampir seharian. Dia bilang, perutnya mengalami kram cukup hebat sehingga tidak kuat ke mana-mana. Kondisi yang membuatku ditimpa rasa sesal berlapis-lapis.

Makanan untuk sarapan yang baru datang langsung kuambil alih. Menunya cukup enak. Nasi dengan capcay, perkedel kentang campur daging, dan telur ceplok. Seperti yang biasa Maysa hidangkan ketika sarapan atau makan malam. Ah, jadi rindu masakan wanita yang satu ini.

“Abang suapin, ya?” kataku sambil membuka pastic wrap yang membungkus makanan.

Maysa memandangku ragu-ragu. Tangannya lalu terulur, hendak mengambil piring yang ada di tanganku. “Bisa makan sendiri, kok.”

“Maysa ….” Aku mencegahnya lewat tatapan ketika tangan Maysa menarik piring yang kupegang.

Ponsel berdering. Shiitake botak! Siapa sih, yang berani mengganggu momen penting? Aku mengambil benda itu dari atas sofa. Kali ini kubiarkan Maysa menang dalam kompetisi tarik-menarik tadi.

Nama Ratu yang terpampang membuatku agak gamang. Tapi begitu mendapati Maysa makan dengan tampang tak peduli, aku putuskan untuk mengangkat telepon itu.

“Bentar ya, May?” ucapku sambil melangkah keluar.

“Halo, Ra?”

“Han …, kamu di mana?” tanya Ratu di seberang sana.

“Di rumah sakit. Ada apa?”

“Siapa yang sakit?”

“Maysa. Dia … dia keguguran.”

“Astaga! Sori, Han …. Kalau gitu enggak jadi.”

Dahiku terlipat. Seperti ada yang urung disampaikan Ratu.

“Ada masalah apa, Ra?” tanyaku lagi.

“Enggak kok, cuma pengen ketemu. Tapi ya udah deh. Semoga Maysa baik-baik aja. Bye.”

Sebelum menjawab apa-apa, telepon sudah dimatikan sepihak oleh Ratu.

Aku membuang napas kasar. Telepon yang agak ganjil dari Ratu mengusik pikiran. Menimbulkan banyak spekulasi. Ada apa sampai minta bertemu? Apakah terjadi sesuatu?

Semoga dia baik-baik saja.

Untuk saat ini, aku ingin fokus dulu ke Maysa dan biarlah Ratu mengurus masalahnya sendiri. Aku yakin dia mampu.

Aku pun kembali masuk dan kulihat Maysa sudah menyelesaikan sarapannya. Pandangannya tertuju pada jendela yang tirainya sedikit kusingkap. Seperti memikirkan sesuatu dengan sangat dalam, sampai-sampai kehadiranku sama sekali tidak mengganggu. Atau dia sengaja mengacuhkanku?

“May,” sapaku yang membuat pundaknya berjingkat kaget.

“Ya?”

“Mikirin apa?” Aku menarik kursi, duduk di sebelah ranjangnya.

“Enggak apa-apa.”

Detik kemudian hening. Aku sibuk memikirkan cara yang tepat untuk menyampaikan kata rujuk. Sebagaimana artikel yang sempat kubaca tadi malam–ketika Maysa kembali terlelap–rujuk tidak hanya dengan niat. Tapi juga dengan ucapan dan disaksikan oleh dua orang. Lalu saat ini aku ragu, bagaimana jika Maysa menolak? Walaupun di artikel itu dijelaskan bahwa untuk merujuk tidak perlu menunggu persetujuan istri … tapi aku tidak mau ada paksaan di pihak Maysa.

“May,” ucapku setelah berdehem dua kali, sekedar untuk mengurangi grogi.

“Iya, Bang?” sahut Maysa tanpa sedikit pun memandang wajahku. Heran, apakah mukaku yang memang belum mandi ini terlihat lusuh sehingga tidak enak dipandang?

Baiklah, abaikan dulu.

“May,” kataku lagi sambil menarik kursi agak ke depan, agar bisa lebih dekat dengan sosok yang kini terlihat lebih cantik itu, “em … kalau mau rujuk, harus ada dua orang yang menjadi saksi, ya?” Aku sengaja mengonfirmasi dan berharap Maysa peka dengan ini.

Wanita berkerudung cokelat itu menoleh. Untuk beberapa detik dia memandang wajahku dengan alis sedikit berkerut. Yes! Sepertinya Maysa sudah bisa menangkap maksudku.

“Iya. Emangnya kenapa?”

Ah, pertanyaannya membuat pipiku mengendur.

“Em … cuma memastikan aja,” jawabku sambil memasang wajah se-cool mungkin. Padahal urat-urat nadiku terasa berlompatan dan sulit diredam.

“Oh,” sahutnya pendek dan datar.

Suasana kembali hening. Sesekali terdengar detak heels di luar. Entah perawat atau dokter perempuan yang lewat. Lumayan sebagai selingan di antara kebisuan.

“Bang,” panggilan Maysa membuyarkan pikiranku yang tengah sibuk memikirkan kalimat rujuk.

“Iya, May?”

“Masa iddah saya sudah habis.”

Kalimatnya sontak menghentikan lompatan seluruh nadi. Bahkan dunia seakan berhenti berotasi, menyisakan seorang Maysa dengan kelopak mata berkedip teratur.

Maksudnya apa? Bukankah dia bilang, masa iddahnya tiga kali masa suci dan itu bisa tiga bulan lebih lamanya?

Aku masih diam dengan pandangan menuntut penjelasan.

“Wanita hamil itu, masa iddah-nya sampai melahirkan. Dan keguguran yang saya alami kemarin, dengan janin yang usianya sudah 13 minggu, maka sudah semakna dengan melahirkan. Karena janin di usia itu sudah berbentuk seperti manusia.”

Ya, janin yang dikuret kemarin memang sudah sangat mirip dengan manusia. Aku tahu dari lembaran foto USG.

Aku masih diam. Dalam hati berontak tak terima dengan segala penjelasan yang keluar dari bibirnya. Jemariku mengepal karena emosi. Ingin rasanya berteriak menyalahkan Maysa yang menyimpan kehamilannya seorang diri. Ingin rasanya memaki dirinya yang tidak berani memberi kabar soal ini. Tapi aku lekas sadar bahwa ini semua salahku.

Ya, salahku.

Ya Allah …, rasanya ingin membenturkan kepala ke tembok sampai berdarah-darah. Menyadari betapa otak di dalam sini seperti tumpul sekali. Kenapa aku sebodoh ini?

“Jadi setelah pulang dari sini, saya izin mengambil baju dan barang-barang. Insyaallah saya akan pulang ke rumah Papa.”

Dengan dada yang teramat sakit, aku bangkit. Melangkah ke luar, membiarkan kaki ini berjalan entah ke mana.

Aku butuh waktu. Untuk menenangkan batin yang begitu pilu.

*

Sebelum zuhur, Maysa sudah diizinkan pulang. Aku mengendarai mobil dalam diam. Maysa yang duduk di sebelah pun tidak berkata apa-apa. Praktis, rute rumah sakit hingga rumah, kami lewati dengan keheningan.

Sesampainya di rumah, Maysa mengeluarkan koper, mengemasi barang-barang. Jujur, aku emosi menyaksikan ini. Bagaimana tidak? Kondisinya belum pulih benar, tapi terlihat sekali memaksakan diri.

“Maysa, istirahat dulu!” perintahkan setengah berteriak.

Tangan Maysa yang sedang melipat pakaian, terhenti sejenak. Ia memandangku sekilas, lalu berkata, “Enggak apa-apa, Bang. Saya enggak enak ada di sini.”

“Oke. Abang akan keluar dan kamu tinggal di sini. Istirahat!” ucapku penuh penekanan. Berharap Maysa taat. Tapi siapalah aku sekarang? Hanya mantan yang jelas tidak bisa memintanya patuh seperti dulu.

Namun aku sangat cemas. Aku tidak ingin terjadi sesuatu yang membahayakan dirinya. Apa dia tidak bisa menangkap segenap rasa khawatir yang tersorot dari kedua mataku? Apakah dia tidak bisa membaca bagaimana perasaanku?

Ya, perasaanku. Sesuatu yang aneh yang muncul sejak kata cerai itu terucap. Sesuatu yang membuatku merasa damai jika melihatnya, sesuatu yang membuat batin disiksa rindu jika jauh darinya.

Maysa menatapku sebentar lalu menghela napas berat. Mungkin mempertimbangkan atau malah menganggapku seperti anak kecil yang memohon agar jangan ditinggalkan?

Ponselnya berbunyi, ia lekas mengangkat.

“Ya? Oh, iya Pak. Agak maju sedikit, ya? Iya, betul. Rumah nomor 21.” Setelah telepon ditutup, ia menoleh. “Taksi yang saya pesan sudah menuju ke sini.”

Napasku tersekat. Aku sudah tidak berdaya mempertahankan Maysa.

Terdengar bunyi klakson di luar, tanda mobil yang dipesan Maysa tiba. Mantan istriku itu bergegas menutup kopernya. Setelah berkomunikasi sebentar dengan driver melalui telepon, Maysa pamit.

Kulihat dirinya menyeret koper dengan langkah pelan. Sungguh, aku berharap dia menoleh ke belakang sebelum masuk ke mobil hitam yang ia pesan. Namun, Maysa sama sekali tak melakukan itu. Membuatku hampir melolong panjang karena rasa sakit yang demikian hebat telah bersarang.

Kusaksikan mobil bergerak maju. Membawa Maysa, wanita yang kini hanya boleh kusebut sebagai masa lalu.

-x-

— bersambung —

Share this:

Please follow and like us:

Facebook Comments

Author: ahlijualproperti087887232777

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *